Reflection : Sempurnakah tawakal kita ?

Assalammualaikum . . . Ehemm, seperti pertanyaan di atas ,cehhh …  Hari ini saya nak explain sikit maksud tawakal. Saya nak kita semua reflect especially diri saya sendiri. Perkataan tawakal ni selalu kita dengar bila time exam. Namun jarang sekali kita apply dalam seharian hidup kita esepecially benda yang kecil.

Mungkin kita tak rasa pentingnya tawakal di situ, atau mungkin kita tidak cukup merasai asma’ Allah iaitu Al-Wakil, kerana kita tidak memahaminya.

Tanyalah pada hatimu, mengapa tidak pernah memberi peluang untuk merasai tawakal yang sebenarnya ?

Jadi, tidak hairanlah ketidakhadiran tawakal langsung kita tidak peduli. Hadir atau tidak hadir bagi kita sama sahaja, sebab apa ? sebab kita yakin dengan apa yang kita miliki. I means, kita yakin dengan usaha kita, kita yakin akan ada orang yang sudi bantu kita lantaran berpengaruhnya kita. Kita meletakkan pergantungan kita pada diri sendiri (kebolehan, kemampuan) atau pada manusia.



Lupakahkah kita, Allah memiliki segala yang ada di langit dan di bumi ?
Itulah yang membuat kita terleka daripada merasai sifat Al-Wakil ALLAH dalam hidup kita. Baiklah, apakah yang dimaksudkan dengan tawakal ???



“Tawakal merupakan ibadah hati, dan tidak terkait dengan anggota badan. Anggota badan kita (kaki, tangan atau lisan) harus bekerja keras seolah tidak ada tawakal. Sedangkan, hati kita tidak menggubris keberadaan anggota badan itu, sehingga tidak akan memikirkan hukum sebab-akibat, dan terkait dengan Allah saja.” 

Dalam erti kata yang mudah, hati ini yakin Allah lah yang memberi segalanya, yakin penyusunan Allah dalam memberi kita rezeki adalah cara yang terbaik. Dan anggota perlu berusaha seperti sunatullah (siapa yang usaha, dia berjaya). Usaha sehabis mampu, sehabis daya, seperti mastato’.
Mastato’ = bersungguh-sungguh. In Sha Allah, next entry saya buat pasal mastato’ (

Okay, back pasal tawakal tadi . Banyak buku-buku diluar sana yang penulisan mereka sangat mantap, tapi hari ini saya nak share daripada buku Hati Sebening Mata Air by Amru Khalid. Bagi saya definisi yang beliau bagi sangat jelas dan ni antara buku favourite saya.

‘Tawakal’ berasal dari nama Allah, Al-Wakil. Al-Wakil ialah Zat yang menguruskan hambaNya, dengan kebaikanNya, tiada yang akan menyia-nyiakannya dan menimpa kemudharatan, bahkan Dia akan menunjuki jalan kemashalatan .

Dalam erti kata yang lain, Allah bertanggungjawab agar kita hidup dengan benar, jauh dari mudharat dan penuh dengan kebaikan. Untuk kita benar-benar hidup dengan asma’ Allah ni mustahil untuk kita rasai sifatnya yang ini andai kita tidak menyerahkan diri kita secara total pada Allah.



Nampak macam satu pernyataan yang ekstrim bukan ? secara total ?? bagaimana bisa ??? hmmm
In Sha Allah kita boleh jadi mutawakil (orang yang bertawakal) tu.  Bukanlah yang dimaksudkan menyerahkan diri secara total kita perlu berserah diri semata-mata tetapi anggota badan langsung tiada kuasa/usaha/tindakan yang dibuat. BUKAN … tetapi fahamilah , tawakal itu diputuskan dengan hati dan anggota badan yang menjadi ‘sebab’. ‘Sebab’ yang akan menyempurnakan tawakal kita tadi dan melayakkan kita untuk berkata “aku bertawakal kepada Allah” .

Tawakal itu kerja hati, hanya hati yang mampu buat kerja tawakal. Ehh faham ke ?

“Tawakal adalah amalan hati, tidak terkait dengan anggota badan. Anggota badan berusaha mengambil ‘sebab’ . Jika kita mengambil 99 ‘sebab’ , dan tinggalkan 1 sebab, maka kita bukan seorang mutawakkil.”

“Ambillah ‘sebab’ , tetapi putuslah hati kita dari ‘sebab’ . Itulah yang dinamakan tawakal.”

Untuk kita merasai tawakal tu benar-benar dihati ia tidak mudah. Ia memerlukan keyakinan yang sepenuhnya pada Al-Wakil, mengenalNya, mencintaiNya dan menyandarkan diri padaNya. Kadang kita terlalu berasa resah, sedih, risau dan bahkan sampai axienty hanya kerana satu pintu tertutup.



“Harapan manusia akan pupus, jika ‘sebab-sebabnya’ terputus.” Bukankah demikian ? Apakah harapan manusia akan tercapai , bila ia diberhentikan oleh orang yang memberikan pekerjaan ? Apa yang akan terjadi ? Harapannya akan pupus , kerana faktor penyebab ia mendapat pekerjaan telah terputus. Tapi harapan seorang mukmin akan semakin bertambah , bila sebab itu semakin terputus. Mengapa ? Kerana, ia hanya merasa tersibukkan oleh Allah , bukan yang lain …
Jika sebab terputus , manusia akan menangis , tetapi seorang muslim akan mengatakan , “Alhamdulillah , pasti akan ada jalan keluar . Dan aku bertawakkal pada Al-wakil.”
 - Hati Sebening Mata Air

Tanyakan pada hati kita, relakah Allah menjadi WAKIL buat kita ?  Tidak dinafikan bilamana kita ditimpa kesusahan kita mencari manusia untuk bersandar. Tidak salah wahai sahabatku, kita hanya bersandar pada anggota badan, bukan dengan hati. Yang menjadi kesalahan bilamana kita sandar dengan hati, bukan kepada Allah tetapi manusia. Sandarlah pada Allah dengan serahkan segala urusan kepadaNya.

Perhatikan hadis ini,

“Malaikat Jibrail membisikkan di hati Nabi, bahawa sesungguhnya jiwa itu tidak akan mati hingga rezeki dan ajalmu sempurna.”
(HR. Al-Darulquthni dan Al-Qadha’i)

Yakinlah sahabatku, Allah telah menjamin rezeki kita dan yang akan mencukupkan kita di saat kita ada kekurangan. Andai ada bebanan, Allah lah yang membantu kita memikulnya. Andai kita punya kekurangan ,contoh … kita tidak punya parents, Allah boleh cukupkan kita tanpa parents. Di saat kita lemah dalam pelajaran, Allah boleh cukupkan kita dengan kelebihan di side yang lain. Ingatlah, Allah tidak pernah membebankanmu. Hidup ini Allah hanya mahu lihat usaha, bukan hasilnya.

Sering kali yang membuatkan kita risau tatkala satu pintu rezeki tertutup adalah kita kehilangan jalan yang biasa kita gunakan. Walhal setiap aturan Allah tidak pernah salah even sekecil-kecil benda , pandanglah ia dari kaca mata Iman, kamu pasti melihat hikmahNya. Taddaburkan setiap apa yang terjadi dengan kaitkan Allah.



Rasai dan yakinlah akan janjiNya,

“…dan sesiapa yang bertawakal pada Allah (dengan mengerjakan suruhananNya dan meninggalkan laranganNya), nescaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar (daripada segala yang menyusahkannya)
Serta memberinya rezeki dari jalan yang tidak terlintas dihatinya. Dan (inagtlah) sesiapa yang berserah diri bulat-bulat kepada allah , maka allah cukuplah baginya (untuk menolong dan menyelamatkannya)…”    (Al-Talaq 65 : 2-3)

Perhatikan juga hadis ini,

“Kalau kalian bertawakal pada Allah, dengan sebenar-benarnya tawakal , maka Allah akan memberi rezeki kalian seperti Dia memberi rezeki kepada burung yang keluar pagi dalam keadaan lapar dan kembali petang dengan keadaan kenyang.”  (HR. AL-Tirmidzi , Ibn Majah dan Imam Ahmad)

Tawakal juga ialah kepasrahan hati di hadapan Allah, seperti pasrahnya mayat di hadapan orang yang memandikannya. Tu adalah salah satu anologi. Kedua, biarkanlah Allah untuk berbuat sekehendakNya, kita merespon seperti mana yang Dia mahu (kita berasa senang dan redha dengan ketetapanNya).

Selamat bertawakal sahabatku ,
Dalam setiap urusan mu, biarlah Allah menjadi Wakil buat diri dan hidup kita . . .
Allah tidak pernah mensia-siakan tawakal dan kepercayaanmu kepadaNya.



Comments

Popular Posts